Ketegangan Dagang Meningkat, BRICS Siap Lawan Kebijakan Trump
Brasil Balas Tarif Trump, Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, mengeluarkan pernyataan tegas yang mengejutkan publik internasional. Dalam video yang dirilis pada Senin (8/7/2025), Lula secara terbuka mengancam akan membalas kebijakan tarif sepihak yang dilontarkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump, terhadap negara-negara BRICS.
Pernyataan ini muncul sebagai reaksi atas rencana Trump untuk menerapkan tarif impor tinggi—sebesar 32%—terhadap berbagai produk dari negara anggota BRICS, termasuk Brasil, India, Tiongkok, Rusia, dan negara mitra seperti Indonesia, Brasil Balas Tarif Trump.
Lula: “Kalau Mereka Naikkan Tarif, Kami Juga Bisa”
Dalam pernyataannya, Lula menegaskan bahwa Brasil tidak akan diam menghadapi kebijakan dagang yang ia sebut sebagai “sembrono dan tidak adil”.
“Jika mereka mengenakan tarif semena-mena kepada kita, jangan salahkan jika kami juga membalas,” ujar Lula dengan nada tegas.
Ia juga menambahkan bahwa BRICS tidak bisa di perlakukan sebagai blok ekonomi kelas dua, apalagi di tengah upaya membangun keseimbangan kekuatan ekonomi global yang lebih adil.
BRICS Didorong Lakukan Aksi Kolektif
Lula tidak hanya berbicara atas nama Brasil. Ia juga menyerukan solidaritas antaranggota BRICS untuk menyusun strategi bersama menghadapi tekanan dagang dari AS jika Trump kembali menjabat.
Beberapa opsi yang di sebut meliputi:
- Pengenaan tarif balasan terhadap produk-produk AS
- Pembatasan akses perusahaan Amerika di proyek infrastruktur BRICS
- Akselerasi transaksi perdagangan dalam mata uang lokal untuk mengurangi dominasi dolar
“Kami punya hak yang sama untuk melindungi pasar kami, seperti halnya mereka,” tambah Lula.
Dampaknya bagi Ekonomi Global dan Indonesia
Ketegangan antara AS dan BRICS di khawatirkan akan berdampak luas, terutama bagi negara-negara berkembang yang menjadikan AS sebagai mitra ekspor utama.
Indonesia sebagai mitra BRICS Plus, meski belum anggota penuh, juga bisa terkena imbas tarif tinggi yang di rencanakan Trump. Hal ini akan berdampak pada:
- Penurunan volume ekspor ke AS
- Potensi retaliasi tarif dagang antarnegara
- Kenaikan harga barang impor dari AS ke Indonesia
Pakar: Perang Dagang Baru Bisa Picu Resesi Regional
Menurut analis dari Global Trade Watch, retorika tarif antara AS dan BRICS bisa berkembang menjadi perang dagang dua arah. Jika di biarkan, ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi kawasan dan memicu ketegangan di plomatik jangka panjang.
“Ini bukan lagi isu antar dua negara, tapi bisa bereskalasi menjadi konflik dagang global yang memecah konsensus ekonomi internasional,” ujar Dr. Rafael Moreno, ekonom asal Brasil.
Kesimpulan
Ancaman Presiden Brasil untuk membalas tarif semena-mena Trump terhadap BRICS menjadi sinyal bahwa blok ini tak akan tinggal diam. Ketegangan dagang global kembali memanas, bahkan sebelum hasil Pilpres AS di umumkan.
Jika Trump terpilih kembali, apakah dunia siap menghadapi babak baru perang tarif? Semua mata kini tertuju pada respons kolektif BRICS.